Langsung ke konten utama

Strategi Sunan Kudus Pendekatan Kepada Masyarakat Untuk Memeluk Islam

Strategi Sunan Kudus Pendekatan Kepada Masyarakat Untuk Memeluk Islam - Sunan Kudus termasuk pendukung gagasan Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang yang menerapkan strategi dakwah kepada masyarakat sebagai berikut: 

1. Membiarkan dulu adat istiadat dan kepercayaan lama yang sukar diubah. Mereka sepakat untuk tidak mempergunakan jalan kekerasan atau radikal menghadapi masyarakat yang demikian. 

2. Bagian adat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tetapi mudah dirubah maka segera dihilangkan.

3. Tut Wuri Handayani, artinya mengikuti dari belakang terhadap kelakuan dan adat rakyat tetapi diusahakan untuk dapat mempengaruhi sedikit demi sedikit dan menerapkan prinsip Tut Wuri Hangiseni artinya' mengikuti dari belakang sambil mengisi ajaran agama Islam. 

Sunan Kudus

Sunan Kudus

4. Menghindarkan konfrontasi secara langsung atau secara keras di dalam cara menyiarkan agama Islam. Dengan prinsip mengambil ikan tetapi tidak mangeruhkan airnya. 

5. Pada akhirnya boleh saja merubah adat dan kepercayaan masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tetapi dengan prinsip tidak menghalau masyarakat dari ummat Islam. Kalangan ummat Islam yang sudah tebal imannya harus berusaha menarik simpati masyarakat non muslim agar mau mendekat dan tertarik pada ajaran Islam. Hal itu tak bisa mereka lakukan kecuali melaksanakan ajaran agama Islam secara konsekwen. Sebab dengan melaksanakan ajaran Islam secara lengkap otomatis tingkah laku dan gerak-gerik mereka sudah merupakan dakwah nyata yang dapat memikat masyarakat non muslim. 

Baca juga di bawah ini



Strategi dakwah ini diterapkan oleh Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus dan Sunan Gunungjati. Karana siasat mereka dalam berdakwah tak sama dengan garis yang ditetapkan oleh Sunan Ampel maka mereka disebut Kaum Abangan atau Aliran Tuban. Sedang pendapat Sunan Ampel yang didukung Sunan Giri dan Sunan Drajad disebut Kaum Putihan atau Aliran Giri. Namun atas inisiatif Sunan Kalijaga kedua pendapat yang berbeda itu pada akhirnya dapat dikompromikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Teknik latihan olah sukma dan olah suara (vokal)

a. Olah Sukma. Kalau ketika latihan olah badan dan olah suara untuk melatih fisik yang bersifat jasmaniah, latihan olah sukma ialah untuk melatih kejiwaan. Olah sukma juga disebut olah olah rasa atau olah jiwa. Sukma, jiwa dan rasa sangat perlu untuk melaksanakan sesuatu, dan sering juga disebut pendorong laku. Dalam latihan olah sukma meliputi kegiatan sebagai berikut ini : 1. Penguasaan pancaindra, yaitu : Meraba atau merasakan lewat kulit. Penciuman atau membau sesuatu. Mendengar atau merasakan lewat telinga. 2. Penguasaan perasaan dan laku dalam, yaitu : Pikiran. Observasi. Emosi dan perasaan. Imajinasi atau penghayalan. Konsentrasi atau pikiran berpusat pada tujuan. b. Olah Suara. Ketika latihan olah suara untuk pertunjukan teater tradisional sangat diperlukan, karena teater tradisional sebagian besar telah memakai nyanyian untuk pertunjukannya. Oleh karena itu, sebelum pertunjukan, latihan olah suara harus sudah dilakukan lebih dulu, seperti berikut ini cara latihan olah suara : ...

Gambar Arsitektur Candi Prambanan

Gambar Candi Prambanan  Nama Prambanan, berasal dari nama desa tempat candi ini berdiri, diduga merupakan perubahan nama dialek bahasa Jawa dari istilah teologi Hindu Para Brahman yang bermakna "Brahman Agung" yaitu Brahman atau realitas abadi tertinggi dan teragung yang tak dapat digambarkan, yang kerap disamakan dengan konsep Tuhan dalam agama Hindu.  Baca juga  Gambar Candi Borobudhur Pendapat lain menganggap Para Brahman mungkin merujuk kepada masa jaya candi ini yang dahulu dipenuhi oleh para brahmana. Pendapat lain mengajukan anggapan bahwa nama "Prambanan" berasal dari akar kata mban dalam Bahasa Jawa yang bermakna menanggung atau memikul tugas, merujuk kepada para dewa Hindu yang mengemban tugas menata dan menjalankan keselarasan jagat. Poto Candi Prambanan Nama asli kompleks candi Hindu ini adalah nama dari Bahasa Sansekerta; Siwagrha (Rumah Siwa) atau Siwalaya (Alam Siwa), berdasarkan Prasasti Siwagrha yang bertarikh 778 Saka (856 Masehi).  Relief Candi Pr...

Kunjungan dan penilaian ke pameran seni atau galeri

Manusia telah diciptakan oleh Tuhan dilengkapi dengan otak besar manusia telah terbagi menjadi dua, kanan dan kiri, bagian kiri untuk berfikir eksakta atau logika, sedangkan bagian yang kanan untuk kreativitas atau menciptakan sesuatu. Kreativitas merupakan hal yang tidak bisa dikesampingkan karena dengan kreativitas manusia bisa menata langkah, strategi dalam melakukan jalan hidup. Kreativitas seni merupakan langkah awal di dalam angan-angan manusia. Di dalam kreativitas seni harus ditumbuhkan sikap menghargai suatu karya seni. Untuk bisa menghargai perlu belajar banyak dengan cara melihat, membandingkan, kemudian menghayati dan menghargai sehingga telah terjadi proses pengolahan ide yang kemudian muncul rasa ingin berbuat, berkarya seni. Kunjungan ke pameran seni atau ke sanggar seni merupakan langkah mula agar bisa melakukan dorongan dari dalam diri manusia untuk melakukan yang lebih dari yang sudah mereka lihat. Bagi masyarakat perkotaan pameran, sanggar tidak menjadi masalah, kare...